Jasa Marga

Terungkap Jam Favorit Pemudik Lebaran 2026 di Jalan Tol, Jasa Marga Beberkan Data Terpadat dan Strategi Hindari Macet

Terungkap Jam Favorit Pemudik Lebaran 2026 di Jalan Tol, Jasa Marga Beberkan Data Terpadat dan Strategi Hindari Macet
Terungkap Jam Favorit Pemudik Lebaran 2026 di Jalan Tol, Jasa Marga Beberkan Data Terpadat dan Strategi Hindari Macet

JAKARTA - Arus mudik Lebaran selalu menghadirkan dinamika yang menarik untuk dicermati setiap tahunnya. Evaluasi terbaru menunjukkan ada pola waktu tertentu yang konsisten menjadi pilihan utama para pemudik ketika melintasi jalan tol.

PT Jasa Marga memaparkan hasil evaluasi perjalanan selama libur Idulfitri 2025 sebagai gambaran untuk musim mudik berikutnya. Dari data tersebut, terlihat bahwa pagi hari menjadi rentang waktu yang paling banyak dipilih oleh masyarakat untuk memulai perjalanan.

Corporate Communication & Community Development Head Jasa Marga, Lisye Octaviana, mengungkapkan bahwa lonjakan kendaraan paling terasa terjadi pada jam-jam awal aktivitas. Kepadatan itu secara konsisten muncul pada waktu yang sama di sejumlah ruas tol utama.

“Waktu favorit biasanya dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi, ini khusus untuk di tol ya,” kata Corporate Communication & Community Development Head Jasa Marga, Lisye Octaviana, di kantor Google Indonesia, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Pernyataan tersebut menjadi catatan penting bagi masyarakat yang berencana melakukan perjalanan mudik tahun ini. Dengan mengetahui jam padat tersebut, pemudik diharapkan dapat mengatur ulang waktu keberangkatan agar perjalanan lebih nyaman.

Pagi Hari Jadi Primadona Keberangkatan Pemudik

Fenomena kepadatan pada pagi hari dinilai berkaitan dengan preferensi masyarakat yang ingin tiba lebih cepat di kampung halaman. Selain itu, faktor kenyamanan berkendara saat cuaca masih relatif sejuk juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Lisye mengemukakan masyarakat diharapkan bisa mencari waktu terbaik untuk melakukan perjalanan mudik. Sehingga, bisa menghindari kepadatan di waktu-waktu tersebut.

Ia menegaskan bahwa pengaturan waktu keberangkatan menjadi salah satu kunci utama mengurai potensi kemacetan panjang. Dengan perencanaan yang matang, distribusi kendaraan di jalan tol dapat lebih merata sepanjang hari.

Pola keberangkatan yang menumpuk pada rentang 07.00 hingga 10.00 pagi membuat volume kendaraan meningkat signifikan dalam waktu singkat. Kondisi ini kerap memicu antrean di gerbang tol maupun titik pertemuan arus kendaraan.

Karena itu, masyarakat didorong untuk mempertimbangkan alternatif waktu lain seperti dini hari atau setelah siang. Pergeseran waktu ini diharapkan mampu mengurangi beban lalu lintas pada jam favorit tersebut.

Pemanfaatan Aplikasi Travoy dan Ribuan CCTV untuk Pantau Arus

Sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran perjalanan, Jasa Marga telah menyediakan berbagai sarana pemantauan lalu lintas. Salah satunya adalah aplikasi Travoy yang dapat diakses masyarakat secara real time.

Dia menyatakan selama ini telah terdapat aplikasi Travoy yang bisa digunakan masyarakat untuk memantau secara real time. Kemudian, sudah ada 3.500 CCTV yang bisa diakses masyarakat sebelum atau selama merencanakan perjalanan.

Melalui fasilitas tersebut, pemudik dapat melihat kondisi lalu lintas terkini di berbagai ruas tol. Informasi visual dari CCTV membantu pengguna jalan menentukan rute paling lancar sebelum berangkat.

“Melalui aplikasi Travoy ini nanti dari sebelum perjalanannya, masyarakat bisa membuat perencanaan perjalanan, bisa dicek nanti asal dan tujuan-tujuannya itu mau ke mana, itu nanti akan terlihat jumlah tarif tolnya berapa, lewat gerbang tol mana, bahkan sampai durasinya,” kata Lisye.

Fitur perencanaan perjalanan dalam aplikasi tersebut memungkinkan pengguna mengetahui estimasi biaya dan waktu tempuh. Dengan begitu, pemudik dapat memperhitungkan kebutuhan perjalanan secara lebih rinci.

Kehadiran 3.500 CCTV yang terhubung juga memberi transparansi kondisi di lapangan. Masyarakat tidak lagi harus berspekulasi mengenai kepadatan karena bisa melihat langsung situasi terkini.

Langkah digitalisasi ini menjadi bagian dari strategi pengelola jalan tol untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Informasi yang akurat diharapkan mampu menekan risiko penumpukan kendaraan di satu waktu tertentu.

Prediksi Jumlah Pemudik dan Strategi Rekayasa Lalu Lintas

Sementara itu, dari sisi kepolisian, proyeksi jumlah pemudik tahun ini disebut tidak akan jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Perkiraan ini merujuk pada tren pergerakan masyarakat saat Idulfitri 2025.

Diketahui, Korlantas Polri memprediksi jumlah pemudik tahun ini tak jauh berbeda dari Idulfitri 2025. Namun, memang survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan masih disempurnakan hingga saat ini.

Kasubagdalops Bagops Korlantas Polri, AKBP Renaldi Oktavian, menyampaikan bahwa proses penghitungan masih terus dimatangkan. Meski demikian, gambaran sementara menunjukkan angka yang relatif stabil.

“Ya kalau survei ataupun penghitungan sedang terus dimatangkan, akan tetapi memang tahun ini dibanding dengan tahun kemarin jumlahnya juga hampir sama. Ya kalau pergerakan manusia kan berdasarkan survei itu kurang lebih sekitar 146 juta ya untuk tahun yang lalu,” kata Kasubagdalops Bagops Korlantas Polri, AKBP Renaldi Oktavian, di kantor Google Indonesia, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Jumlah pergerakan manusia yang mencapai sekitar 146 juta pada tahun lalu menjadi acuan penting dalam menyusun strategi pengamanan. Dengan angka yang hampir serupa, pola kepadatan diperkirakan juga tidak akan jauh berbeda.

Renaldi menerangkan Korlantas Polri akan melakukan manajemen rekayasa lalu lintas, salah satunya penerapan one way. Sehingga, arus lalu lintas yang padat akan terurai dan kembali lancar.

Penerapan sistem satu arah menjadi salah satu opsi yang kerap digunakan saat volume kendaraan melonjak tajam. Skema ini terbukti efektif dalam mempercepat laju kendaraan di jalur utama mudik.

Koordinasi antara Korlantas Polri dan Jasa Marga pun terus diperkuat menjelang puncak arus mudik. Sinergi ini penting agar kebijakan rekayasa lalu lintas dapat berjalan selaras dengan pengelolaan ruas tol.

Renaldi juga menegaskan, koordinasi dengan Jasa Marga terus dilakukan agar masyarakat memiliki acuan, pilihan, serta merencanakan perjalanan sebaik mungkin. Dengan begitu, dapat mengantisipasi kepadatan arus kendaraan.

Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran data lalu lintas dan evaluasi kondisi lapangan secara berkala. Informasi yang terintegrasi diharapkan mampu membantu pengambilan keputusan secara cepat dan tepat.

Komitmen Pelayanan untuk Kelancaran Perayaan dan Ibadah

Pada akhirnya, seluruh langkah yang disiapkan bertujuan memastikan masyarakat dapat menjalankan tradisi mudik dengan aman dan nyaman. Pelayanan optimal menjadi prinsip utama dalam pengelolaan arus Lebaran tahun ini.

“Karena prinsipnya tahun ini sama, kita akan melayani masyarakat untuk bisa melaksanakan kegiatan perayaan, kemudian ibadah, kemudian juga berkumpul bersama keluarga,” tutur Renaldi.

Momentum Lebaran bukan sekadar perjalanan fisik menuju kampung halaman. Ia juga menjadi momen emosional yang mempertemukan keluarga besar dalam suasana kebersamaan.

Karena itu, pengaturan waktu keberangkatan, pemanfaatan teknologi, serta rekayasa lalu lintas menjadi rangkaian upaya yang saling melengkapi. Semua pihak berharap arus mudik tahun ini dapat berlangsung lebih tertib dan lancar.

Masyarakat pun diimbau untuk aktif memanfaatkan informasi yang telah tersedia sebelum memulai perjalanan. Dengan perencanaan matang dan pilihan waktu yang tepat, potensi kepadatan pada jam favorit dapat diminimalkan secara signifikan.

Gambaran mengenai jam terpadat di jalan tol menjadi pelajaran berharga dari evaluasi sebelumnya. Data tersebut diharapkan membantu pemudik menentukan strategi perjalanan yang lebih efektif pada musim mudik kali ini.

Pada akhirnya, kesadaran bersama antara pengelola, aparat, dan masyarakat menjadi kunci utama kelancaran arus mudik. Dengan kolaborasi yang solid, perjalanan menuju kampung halaman dapat berlangsung lebih aman, nyaman, dan penuh makna.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index