Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan, Pasar Global dan Domestik Jadi Sorotan Utama

Jumat, 06 Februari 2026 | 14:17:47 WIB
Rupiah Kembali Tertekan di Awal Perdagangan, Pasar Global dan Domestik Jadi Sorotan Utama

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan kembali mencuri perhatian pelaku pasar keuangan. Mata uang Garuda membuka hari dengan tekanan yang menunjukkan kehati-hatian investor terhadap dinamika global dan domestik.

Pelemahan rupiah ini menjadi kelanjutan dari tren volatilitas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat pasar uang kembali mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan sentimen ekonomi dalam negeri.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 6 Februari 2026, rupiah hingga pukul 09.32 WIB berada di level Rp16.886 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 44 poin atau setara 0,26 persen dari Rp16.842 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.821 per USD. Perbedaan angka tersebut mencerminkan dinamika transaksi yang masih berlangsung di pasar spot valuta asing.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah. Ia menilai sentimen global yang belum stabil masih menjadi faktor dominan dalam pergerakan mata uang domestik.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.840 per USD hingga Rp16.900 per USD," jelas Ibrahim. Rentang tersebut menunjukkan bahwa tekanan masih membayangi rupiah meskipun pergerakan intraday berpotensi naik turun.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan investor terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat pasar cenderung menahan diri dan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Fluktuasi nilai tukar juga mencerminkan respons pasar terhadap berbagai informasi ekonomi yang berkembang dalam waktu singkat. Pelaku pasar memantau data makroekonomi, pernyataan pejabat bank sentral, hingga perkembangan geopolitik global.

Pasar Antisipasi Kebijakan Hawkish The Fed di Bawah Warsh

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar yang tengah mengantisipasi arah kebijakan moneter Fed yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Warsh. Ekspektasi ini membuat dolar AS tetap berada dalam posisi kuat terhadap sejumlah mata uang dunia.

Para pedagang juga menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga Fed setelah jeda penurunan suku bunga Fed pada Januari dan penunjukan Warsh. Kondisi tersebut membuat pasar menyesuaikan kembali proyeksi pergerakan suku bunga ke depan.

"Pasar keuangan saat ini memperkirakan hampir 46 persen kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni, menurut alat CME FedWatch," papar Ibrahim. Angka tersebut menunjukkan bahwa peluang pelonggaran kebijakan moneter belum sepenuhnya menghilang.

Namun, probabilitas tersebut masih dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pelemahan signifikan dolar AS dalam waktu dekat. Investor global cenderung bersikap wait and see sembari menunggu kejelasan kebijakan bank sentral terbesar dunia itu.

Selain faktor moneter, sentimen geopolitik juga menjadi perhatian pasar keuangan. Hubungan antara Amerika Serikat dan China yang sebelumnya sempat memanas kini menunjukkan tanda-tanda mereda.

Percakapan positif antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, menjaga ketegangan antara Washington dan Beijing tetap tenang. Trump mengatakan ia telah melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi dari Tiongkok.

Trump mengungkapkan akan melakukan perjalanan ke Tiongkok pada April dan mereka akan membahas perdagangan, militer, Taiwan, perang Rusia-Ukraina, Iran, dan pembelian minyak dan gas Tiongkok dari AS. Rencana pertemuan tersebut memberi sinyal positif bagi stabilitas hubungan dua ekonomi terbesar dunia.

Meskipun demikian, pasar tetap berhati-hati karena isu geopolitik global dinilai belum sepenuhnya reda. Ketidakpastian tersebut membuat investor cenderung mempertahankan aset safe haven seperti dolar AS.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Arus modal asing yang sensitif terhadap perubahan sentimen global dapat bergerak cepat keluar masuk pasar domestik.

Dalam situasi seperti ini, pergerakan rupiah sangat bergantung pada keseimbangan antara sentimen global dan faktor fundamental dalam negeri. Setiap perubahan kebijakan atau pernyataan pejabat penting dapat langsung tercermin pada nilai tukar.

Data Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Penopang Sentimen Domestik

Di sisi lain, rupiah juga terpengaruh oleh sentimen laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen (yoy). Angka ini menunjukkan perekonomian nasional masih mampu tumbuh solid di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, sepanjang 2024 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mencapai 5,03 persen (yoy). Kinerja tersebut menandakan adanya perbaikan meskipun tantangan global masih membayangi.

Sepanjang 2025 berdasarkan harga produk domestik bruto (PDB) atas harga berlaku sebesar Rp23.821,1 triliun dan atas dasar harga konstan Rp13.580,5 triliun. Secara kumulatif ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,51 persen secara tahunan.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi nasional tetap terjaga dengan baik. Konsumsi domestik dan investasi masih menjadi motor utama pertumbuhan.

Sedangkan, dari sisi produksi, penyumbang utama pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 adalah industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan infokom. Sektor-sektor tersebut menjadi tulang punggung perekonomian nasional di tengah dinamika global.

Dari sisi pengeluaran, penyumbang utama ekonomi tahun lalu adalah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Kinerja ini menunjukkan daya beli masyarakat serta investasi masih berada pada level yang sehat.

Sepanjang 2025, wilayah Jawa dan Sulawesi tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini mencerminkan pemerataan pertumbuhan yang mulai terlihat di luar pusat ekonomi tradisional.

Adapun, sebelumnya konsensus ekonom dan analis memperkirakan kinerja ekonomi Indonesia 2025 hanya akan tumbuh paling tinggi 5,1 persen secara tahunan (yoy). Realisasi pertumbuhan di atas ekspektasi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.

Berdasarkan estimasi median (median estimate) dari perkiraan para ekonom dan analis yang dihimpun Bloomberg, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun lalu yakni sebesar 5,1 persen. Capaian aktual yang sedikit lebih tinggi memperkuat optimisme terhadap fundamental ekonomi nasional.

Meski demikian, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Faktor global seperti kebijakan moneter negara maju dan dinamika geopolitik masih berpotensi memicu volatilitas.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan kebijakan The Fed dan data ekonomi global. Setiap sinyal perubahan arah kebijakan dapat langsung memengaruhi pergerakan rupiah.

Di sisi domestik, stabilitas inflasi dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor. Konsistensi kebijakan fiskal dan moneter juga berperan besar dalam menopang nilai tukar.

Pergerakan rupiah yang fluktuatif mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap berbagai informasi baru. Dalam situasi seperti ini, investor dan pelaku usaha diimbau untuk tetap waspada terhadap risiko nilai tukar.

Meski melemah pada awal perdagangan, rupiah masih memiliki peluang untuk bergerak dinamis seiring perkembangan sentimen global dan domestik. Pergerakan intraday yang beragam mencerminkan adanya tarik-menarik antara tekanan eksternal dan fundamental dalam negeri.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif solid, Indonesia masih memiliki fondasi kuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Namun, ketidakpastian global membuat pasar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Ke depan, arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh respons pasar terhadap kebijakan bank sentral global dan perkembangan geopolitik. Dalam kondisi tersebut, kewaspadaan dan strategi lindung nilai menjadi semakin penting bagi pelaku usaha dan investor.

Terkini