JAKARTA - Tekanan pasar saham kembali terasa pada akhir pekan perdagangan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan posisi hijau. Pergerakan indeks mencerminkan kehati-hatian investor di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang kurang kondusif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (5 Februari 2026) di zona merah dengan koreksi 0,53% ke level 8.103,88. Pelemahan terjadi di tengah pergerakan variatif saham-saham berkapitalisasi besar yang membuat indeks bergerak tidak seragam sepanjang sesi.
Saham ASII melonjak 4,12%, disusul TPIA yang menguat 5,84% dan BMRI naik 1,00% sehingga menjadi penopang utama indeks. Kenaikan saham-saham tersebut membantu menahan tekanan lebih dalam meskipun sentimen pasar secara keseluruhan masih cenderung negatif.
Namun, di sisi lain, tekanan datang dari FILM yang anjlok 14,85%, MORA melemah 14,93%, serta DSSA turun 2,65% dan masuk jajaran pemberat indeks. Penurunan tajam saham-saham tersebut menunjukkan masih adanya tekanan jual yang cukup besar di sejumlah sektor tertentu.
Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar masih bersikap selektif dalam memilih saham. Investor tampak hanya masuk ke saham-saham tertentu yang dinilai memiliki prospek fundamental atau teknikal yang lebih kuat.
Pergerakan Saham Unggulan dan Tekanan Pasar Domestik
Pergerakan saham berkapitalisasi besar yang tidak searah membuat IHSG kesulitan menemukan arah yang solid. Kenaikan ASII, TPIA, dan BMRI memang memberi dorongan, tetapi tidak cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari saham-saham yang mengalami koreksi dalam.
Saham FILM dan MORA yang mencatatkan penurunan dua digit menjadi sorotan karena memberikan kontribusi besar terhadap pelemahan indeks. Tekanan jual yang tinggi pada saham-saham ini menunjukkan adanya aksi profit taking atau sentimen negatif spesifik terhadap emiten tersebut.
Selain itu, DSSA yang turun 2,65% turut menambah beban bagi pergerakan indeks. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari saham lapis kedua, tetapi juga menyentuh saham-saham dengan kapitalisasi yang cukup besar.
Pergerakan variatif ini membuat pelaku pasar cenderung menunggu kepastian arah sebelum kembali meningkatkan eksposur. Banyak investor memilih bersikap defensif sambil memantau perkembangan sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi pasar.
Dari aktivitas investor global, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sebesar Rp355,43 miliar di pasar reguler, dengan total jual bersih di seluruh pasar mencapai Rp469,75 miliar. Aksi jual ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan IHSG sepanjang perdagangan.
Arus dana asing yang keluar menunjukkan bahwa investor global masih bersikap hati-hati terhadap pasar domestik. Kondisi ini membuat likuiditas pasar menjadi sedikit tertekan dan volatilitas meningkat.
Tekanan dari sisi asing juga berdampak pada pergerakan saham-saham unggulan yang biasanya menjadi incaran investor institusi. Meskipun ada beberapa saham yang mampu bertahan, secara umum pasar tetap bergerak di zona negatif.
Situasi ini membuat investor ritel lebih berhati-hati dalam mengambil posisi baru. Banyak pelaku pasar memilih menunggu konfirmasi tren sebelum melakukan transaksi lanjutan.
Kinerja Sektoral dan Pengaruh Bursa Global
Secara sektoral, mayoritas sektor berakhir di zona negatif, dengan 10 dari 11 sektor melemah. Sektor industrial mencatat penurunan terdalam sebesar 1,35%, sementara sektor consumer non-cyclical menjadi satu-satunya yang menguat dengan kenaikan 0,79%.
Pelemahan sektor industrial mencerminkan adanya tekanan terhadap saham-saham yang sensitif terhadap siklus ekonomi. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor masih mencermati potensi perlambatan ekonomi global yang dapat berdampak pada sektor tersebut.
Di sisi lain, sektor consumer non-cyclical yang menguat menandakan adanya rotasi ke saham-saham defensif. Investor tampaknya memilih sektor yang dianggap lebih stabil di tengah ketidakpastian pasar.
Tekanan eksternal turut membayangi pergerakan pasar domestik. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah, di mana indeks Dow Jones turun 1,20% ke level 48.908, S&P 500 terkoreksi 1,23% ke posisi 6.798, dan Nasdaq melemah 1,59% ke level 22.540.
Pelemahan bursa Amerika Serikat tersebut memberikan sentimen negatif ke pasar global, termasuk Indonesia. Investor global cenderung mengurangi eksposur ke aset berisiko ketika pasar utama mengalami koreksi tajam.
Kondisi ini membuat pasar saham Asia, termasuk Indonesia, bergerak dengan tekanan sejak awal sesi perdagangan. Pelaku pasar domestik tidak luput dari dampak psikologis atas koreksi yang terjadi di bursa utama dunia.
Selain itu, volatilitas pasar global yang meningkat membuat investor lebih selektif dalam memilih saham. Hal ini tercermin dari pergerakan IHSG yang cenderung fluktuatif sepanjang perdagangan.
Sentimen global tersebut diperparah oleh keputusan Moody’s yang menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat investment grade di level Baa2. Keputusan ini memberikan tekanan tambahan terhadap persepsi risiko investasi di pasar domestik.
Dampak sentimen ini tercermin pada indeks ETF Indonesia, EIDO, yang turun 1,57%, sementara MSCI Indonesia bergerak relatif datar dengan penurunan tipis 0,01%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor global masih bersikap hati-hati terhadap aset Indonesia.
Penilaian Moody’s dan Implikasi bagi Pasar Saham
Dalam laporannya, Moody’s menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan mencapai 5,11% pada 2025 serta target jangka panjang menuju negara berpendapatan tinggi. Penilaian ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid di tengah tantangan global.
Namun, lembaga pemeringkat tersebut menyoroti meningkatnya risiko dari sisi kebijakan, khususnya terkait konsistensi perumusan kebijakan dan penurunan kualitas tata kelola. Faktor-faktor tersebut dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor dalam jangka menengah hingga panjang.
Moody’s juga menyoroti peningkatan belanja sosial yang belum sepenuhnya diimbangi penguatan sisi pendapatan negara, sehingga berpotensi menekan kondisi fiskal. Kondisi ini dianggap dapat meningkatkan risiko terhadap stabilitas fiskal jika tidak dikelola secara hati-hati.
Selain itu, Moody’s mencermati wacana revisi Undang-Undang Keuangan Negara yang berpotensi mengubah batas defisit fiskal. Isu independensi bank sentral dalam pengambilan kebijakan moneter juga menjadi perhatian penting dalam penilaian tersebut.
Kinerja dan koordinasi kebijakan Danantara turut menjadi sorotan, terutama karena ketergantungannya pada penerimaan dividen BUMN yang dinilai berisiko terhadap kesehatan keuangan BUMN di bawah pengawasannya. Hal ini dinilai dapat memengaruhi stabilitas sektor korporasi negara dalam jangka panjang.
Moody’s menyatakan peluang kenaikan peringkat menjadi tertutup, dan risiko penurunan peringkat dapat terbuka apabila belanja fiskal semakin tidak terkendali. Tekanan nilai tukar yang berlanjut serta kondisi keuangan BUMN yang memburuk akibat rendahnya imbal hasil investasi juga menjadi faktor risiko tambahan.
Keputusan penurunan outlook ini berpotensi memengaruhi penilaian FTSE Russell terhadap prospek pasar saham Indonesia. Dengan demikian, terdapat kemungkinan FTSE melakukan pembekuan proses inclusion maupun exclusion emiten Indonesia dalam indeks-indeks kelolaannya.
Implikasi dari kondisi ini dapat berdampak pada arus dana asing ke pasar saham domestik. Investor global cenderung mempertimbangkan ulang alokasi asetnya jika prospek risiko meningkat.
Bagi investor domestik, situasi ini menjadi pengingat pentingnya memperhatikan faktor fundamental dan makroekonomi dalam mengambil keputusan investasi. Pasar saham tidak hanya dipengaruhi kinerja emiten, tetapi juga kondisi kebijakan dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Dalam jangka pendek, tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih akan berlanjut jika sentimen global dan domestik belum membaik. Namun, peluang rebound tetap terbuka jika terdapat katalis positif dari sisi kebijakan atau data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.
Rekomendasi Saham dan Strategi Investor di Tengah Tekanan Pasar
Di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, sejumlah rekomendasi saham tetap diberikan untuk membantu investor mengelola portofolio. Rekomendasi ini bersifat informatif dan dapat menjadi referensi dalam mengambil keputusan investasi.
ERAA direkomendasikan buy di kisaran 408-412 dengan target harga 424-430 dan stop loss di 384. Rekomendasi ini didasarkan pada potensi teknikal yang dinilai masih menarik di tengah volatilitas pasar.
MDKA juga direkomendasikan buy di kisaran 2.980-3.020 dengan target harga 3.100-3.200 dan stop loss di 2.810. Saham ini dinilai memiliki potensi rebound seiring dengan pergerakan harga komoditas yang masih fluktuatif.
TKIM direkomendasikan buy di kisaran 7.000-7.050 dengan target harga 7.325-7.425 dan stop loss di 6.500. Rekomendasi ini mempertimbangkan prospek fundamental serta potensi teknikal saham tersebut.
RALS direkomendasikan buy di kisaran 472-480 dengan target harga 492-505 dan stop loss di 444. Saham ini dipandang memiliki peluang pergerakan positif seiring dengan pemulihan sektor konsumsi.
TUGU juga direkomendasikan buy di kisaran 1.215-1.225 dengan target harga 1.265-1.290 dan stop loss di 1.150. Rekomendasi ini mencerminkan potensi pergerakan saham di tengah volatilitas pasar keuangan.
Segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
Dalam kondisi pasar yang penuh tekanan, investor disarankan untuk tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Diversifikasi portofolio menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak volatilitas pasar.
Selain itu, investor juga perlu mencermati perkembangan sentimen global dan domestik yang dapat memengaruhi arah pasar. Data ekonomi, kebijakan moneter, serta kondisi geopolitik menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Meski IHSG mengalami koreksi, pasar saham tetap menawarkan peluang bagi investor yang mampu bersikap selektif. Saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi menarik dapat menjadi pilihan di tengah volatilitas.
Dalam jangka panjang, pasar saham Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan seiring dengan prospek ekonomi nasional yang relatif solid. Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko jangka pendek yang berasal dari dinamika global dan kebijakan domestik.
Dengan memahami kondisi pasar secara menyeluruh, investor diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dan terukur. Pendekatan yang disiplin dan berbasis data menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian pasar saat ini.